Articles by "emilia renita"
Showing posts with label emilia renita. Show all posts
Islam Nusantara Ada Apa ?
Oleh Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

Di awal Ramadhan di tengah kaum muslimin menunaikan ibadah berpuasa, munculah istilah Islam Nusantara oleh Jokowi saat berpidato dalam pembukaan Munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Minggu (14/06/2015), yang mengatakan : "Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi."

Hal ini menjadi fenomena yang menarik diperbincangkan. Bukan melihatnya dari sudut pandang bagaimana proses kesejarahan masuknya Islam ke Indonesia. Sehingga melahirkan akulturasi nilai yang integral dan khas. Melainkan menjadikan pembenaran sejarah munculnya Islam Nusantara dalam bingkai kampanye secara masif Islam Nusantara. Yang didikotomikan dengan Islam Radikalis atau Islam Fundamentalis.
Apalagi munculnya Islam Nusantara dianggap sebagai antitesa dari gambaran Islam Timur Tengah yang dicitrakan penuh dengan kekerasan dan perpecahan. Dengan mengangkat realitas politik yang berkembang saat ini.
Ditambah lagi sebagaimana disampaikan oleh Jokowi berulang-ulang di berbagai forum internasional tentang pentingnya membangun kesan lain atau citra spesifik gambaran Islam Nusantara kepada Barat.
Sebuah gambaran Islam penuh wasathan (jalan tengah), toleran, sopan santun, moderat dan damai. Masifnya kampanye Islam Nusantara di tengah konstelasi politik global seperti mengindikasikan bagaimana memposisikan Indonesia sebagai entitas politik mayoritas muslim terbesar dalam percaturan politik internasional.
Sangat naif untuk tidak menyebut ada sebuah skenario besar negara-negara adi daya Eropa dan Amerika, sebagai pemain politik utama dunia di tengah kecamuk politik internasional.
Sangat mudah melihat perilaku politik negara-negara besar melalui berbagai strategi politik intervensi dan invasinya. Ada pola dan intensitas yang berbeda bagaimana negara-negara besar memperlakukan negeri-negeri muslim di jazirah Arab (Timur Tengah) dengan di Asia terutama Asia Tenggara.
Nampaknya kekhawatiran Barat dalam konteks ini adalah besarnya pengaruh resonansi konflik Timur Tengah yang bergolak kepada potensi pergolakan yang sama di negara lain termasuk Indonesia.
Dan sebagai sebuah negara yang secara politik, ekonomi, sosial dan budaya bergantung, maka Indonesia memiliki potensi untuk dibuatkan sebuah rumusan intelektual baru dengan memanfaatkan legitimasi historis, psikologi sosial yang lemah, ketidakberdayaan intelektual, budaya sinkretis, phobia nilai islam yang secara substansial memiliki kepentingan yang sama dan sejalur dengan kepentingan barat bernama Islam Nusantara.
Islam ala Indonesia yang berbeda sama sekali dengan Islam negara lain. Namun kompromis dengan barat karena dianggap bertentangan dengan gambaran Islam Radikalis atau Islam Fundamentalis yang direpresentasikan oleh Timur Tengah.
Luar biasa sebuah pencitraan Islam dalam skenario global dengan pendekatan adu domba melibatkan kepentingan negara dan kelompok melalui tangan para penguasanya. Parahnya kelompok-kelompok islam yang dimanfaatkan itu memiliki kepentingan politik pragmatis (alias duit) sehingga mudah diberdaya.

Kampanye Islam Nusantara di tengah arus War On Terrorism

Di tengah longgarnya interpretasi terhadap sejarah Islam Nusantara (Indonesia), kampanye masif Islam Nusantara nampaknya tidak bisa dipisahkan dengan sejarah panjang "War On Terrorism".
Meski hal itu sengaja ditutup-tutupi agar tidak kelihatan wajah aslinya dan agar mendapatkan tingkat penerimaan yang tinggi. Dengan memanfaatkan potensi masyarakat berbasis kultur patrimonial terutama di Jawa.
Sebuah kultur yang lebih mengedepankan ikatan emosional dengan para kyainya ketimbang ikatan rasional. Potensi psikologi kultur masyarakat seperti itu dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik pragmatis para pemimpinnya.
Tak bisa dipungkiri, bahwa rumusan Islam Nusantara adalah metamorfosis dari Islam Moderat yang secara masif dikampanyekan sebelumnya. Agar mendapatkan kesesuaian emosional, sosial dan kultural dengan masyarakat Indonesia maka istilah yang dipandang tepat adalah Islam Nusantara.
Istilah ini lebih menusuk alam bawah sadar masyarakat Indonesia. Meski jika digali secara normatif mengikuti tradisi intelektual salafus shalih akan sangat terbatas narasi yang dibangun. Hanyalah berisi legitimasi historis, sosial, kultural dan politis.
Dengan menggunakan pendekatan tafsir kontekstual sebagaimana barat mengembangkan tafsir "hermeneutika" nya. Ini menjadi semacam melihat Islam menggunakan kacamata Barat. Layaknya menjelaskan Islam seperti tertuduh penuh rasa bersalah.

Jika mencermati asal muasal Islam Nusantara alias Islam Moderat maka penting melihat kembali sebuah statement yang dikeluarkan oleh seorang mantan Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowits yang menyatakan : “Untuk memenangkan perjuangan yang lebih dahsyat ini, adalah sebuah kesalahan kalau menganggap kita yang memimpin. Tapi kita harus semaksimal mungkin mendorong suara-suara muslim moderat.” (Dari buku Siapakah Muslim Moderat ? (ed). Suaidi Asy’ari, Ph.D (2008).
Perbincangan Islam Moderat ini adalah sebuah perjalanan panjang yang terkait dengan pembahasan hangat tentang terorisme, fundamentalisme dan radikalisme. Yang mendapati momentumnya pada peristiwa WTC 9/11 di dunia.
Dan di Indonesia diawali dengan terjadinya bom Bali diteruskan bom JW Marriot dan Ritz Carlton hingga sekarang dengan keberadaan IS (Islamic State) ala ISIS. Tiga tahun setelah peristiwa 9/11, Huntington menegaskan perlunya musuh baru bagi Amerika Serikat dan barat. Dan katanya, musuh itu sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan.
Dalam bukunya, Who Are We ? (2004), Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS.
Setelah itu terjadilah “perburuan Islam militan” atau “islam radikal”. Mulai dari Usama Bin Laden hingga IS ala ISIS yang dianggap sebagai simbol teroris internasional.

Kerangka masif kampanye Islam Nusantara alias Islam Moderat alias Islam Rahmatan Lil Alamin di berbagai forum dan kesempatan oleh berbagai pihak di bawah komando Jokowi menyisakan pertanyaan besar ada kepentingan besar apa sebenarnya yang ada dibaliknya ? Wallahu a'lam bis shawab.
Soal:
EMILIA RENITA : Penanya dan jamaah yang bersamanya tinggal di perbatasan Utara, berdekatan dengan markas-markas kelompok orang-orang Iraq. Di sana, ada jamaah yang bermadzhab ja’fariyah. Sebagian dari mereka menolak makan  daging hewan sembelihan orang-orang tersebut, sedangkan sebagian lagi mau memakannya. Pertanyaan kami boleh (halal) memakan daging tersebut, perlu diketahui bahwa mereka suka berdoa kepada Ali, Hasan, Husain, dan seluruh pemimpin mereka, dalam keadaan susah dan senang?

Jawab:
Bila persoalannya benar seperti yang diungkapkan oleh penanya, bahwa komunitas yang di sekitarnya adalah orang-orang yang beraliran ja’fariyah yang suka berdoa kepada Ali, Hasan, Husain dan pemuka-pemuka mereka, maka orang-orang tersebut telah musyrik dan murtad dari Islam – kita berlindung kepada Allah.

Memakan daging hewan yang disembelih mereka tidak halal karena itu adalah bangkai, walaupun mereka menyebut nama Allah dalam penyembelihannya. Semoga Allah memberikan taufik serta melimpahkan shalawan dan keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Komisi Tetap untuk Riset dan Ilmiah dan Fatwa:
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazaq Afifi
Anggota:
(1) Abdullah bin Qu’ud
(2) Abdullah bin Ghadyan
(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal ifta’, II : 372)


Soal:
Saya berasal dari suku kecil yang tinggal di perbatasan utara. Suku kami hidup bercampur dengan suku-suku dari Iraq. Madzhab mereka adalah Syiah watsaniyah (penyembah berhala). Mereka beribadah kepada kubah-kubah yang mereka namakan Hasan, Husain, dan Ali. Bila salah seorang dari mereka beribadah, ia berkata, “Wahai Ali, wahai Husain”.


 Sebagian orang dari suku kami telah hidup berbaur dengan mereka melalui pernikahan dan dalam segala hal. Saya telah menasehati mereka, namun mereka tidak mengindahkannya. Mereka berada dalam kehidupan yang mapan dan memiliki kedudukan, sedangkan saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menesehati mereka. Akan tetapi, saya membenci hal itu dan memilih tidak berbaur dengan mereka.
 Saya mendengar bahwa daging heewan sembelihan mereka tidak boleh dimakan, namun orang-orang dari suku saya tersebut malah memakannya. Mereka tidak menjaga diri. Saya memohon kepada dewan terhormat untuk memberikan penjelasan yang pasti tentang apa yang telah saya sebutkan ini.

Jawab:
Jika realitasnya yang anda sebutkan, mereka berdoa kepada Ali, Husain,  Hasan dan yang lainnya, maka mereka telah melakukan kesyirikan besar, yang mengeluarkan pelakunya dari agam Islam. Kita tidak boleh menikahkan mereka dengan anak-anak perempuan kita dan kita pun tidak halal menikahi perempuan-perempuan mereka. Kita tidak boleh memakan daging hewan sembelihan mereka. Allah Ta’ala berfirman :

 وَلَا تَنكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ [٢:٢٢١]


“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan  ampunan dengan izin-nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”. (Al-Baqarah (2) : 221).

Semoga Allah memberikan taufik serta melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.

Komisi Tetap untuk Riset dan Ilmiah dan Fatwa:
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrazaq Afifi

Anggota:
(1) Abdullah bin Qu’ud
(2) Abdullah bin Ghadyan

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal ifta’, II : 373) (Gensyiah.com/Syiahindonesia.com)

emilia renita :Melaknat seseorang, siapa pun dan apa pun mazhabnya, bukanlah wewenang kita sebagai hamba Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak melaknat hamba-Nya. Namun, ketika perilaku melaknat, menyesatkan, terlebih mengkafirkan sesama Muslim bukan ajaran Rasulullah Saw.





Dilansir dari Datdut.com (8/11/17), Emilia dalam status Faceeboknya melontarkan doa laknat dalam bahasa Arab untuk orang-orang yang telah menyakiti cucu Nabi Saw., Husain As. Berikut kutipannya dalam aksara latin:

Allahummal ‘an awwala zhalimin, zhalama haqqa Muhammad wa ali Muhammad, wa akhira tabi’in lahu ‘ala dzalik. Allahummal ‘anil ishabah allati jahadat al-Husain, wa syayaat wa baya’at wa taba’at ‘ala qatlihi. Allahummal ‘anhum jami’an. (albert/syiahindonesia.com)

 


emilia renita
: Syi'ah berperan apik dalam hal ini mereka menyerukan cinta Ahlul Bait dalam propaganda mereka dan setelah itu mereka menghembuskan racun-racun berbahaya bagi umat Islam. Dan di antara contoh dari penyimpangan yang dilakukan Syi'ah terhadap Al-Qur'an adalah bahwa mereka Meyakini bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini telah banyak dikurangi oleh Ahlussunnah, dan mereka mempunyai Al-Qur'ah yang tertulis dalam Mushaf Fatimah. Bahkan menurut keyakinan yang dianut oleh ulama' Syi'ah, Mushaf Fatimah ini tiga kali lebih tebal dari Mushaf Al-Qur'an yang ada saat ini, dan isinya berbeda dengan Al-Qur'an yang ada. Mari kita lihat apa yang ditulis oleh Al-Kulaini dalam kitabnya Al-Kaafi :





عدة من أصحابنا، عن أحمد بن محمد، عن عبد الله بن الحجال، عن أحمد بن عمر الحلبي، عن أبي بصير قال: دخلت على أبي عبد الله عليه السلام:... وإن عندنا لمصحف فاطمة عليها السلام وما يدريهم ما مصحف فاطمة عليها السلام؟ قال: قلت: وما مصحف فاطمة عليها السلام؟ قال: مصحف فيه مثل قرآنكم هذا ثلاث مرات، والله ما فيه من قرآنكم حرف واحد، قال: قلت: هذا والله العلم قال: إنه لعلم وما هو بذاك...

Dari beberapa sahabat kami meriwayatkan dari Ahmad bin Muhammad, dari Abdullah bin Al-Hajaal, dari Ahmad bin Umar Al-Halbi, dari Abu Bashir berkata : 'Aku masuk menemui Abu Abdillah alaihissalam, berkata ; 'kita mempunyai Mushaf Fatimah alaihassalam, tahukan engkau apa itu Mushaf Fatimah?', Aku berkata 'apa itu Mushaf Fatimah?'. Abu Abdillah berkata; 'Mushaf yang terkandung di dalamnya tiga kali lipatn dari Al-Qur'an kalian, demi Allah di dalamnya tidak ada satu huruf pun dari Al-Qur'an kalian', Abu Abdillah melanjutkan 'demi Allah inilah ilmu, dan ini benar-benar ilmu…" (Lihat Al-Kaafi karya Al-Kulaini halaman 238 juz 1). (nisyi/qadisiyah/syiahindonesia.com)


Bismillah

Teruntuk Emilia Renita

Blog ini saya persembahkan untuk ibu Emilia Renita yang masih bergelut dengan  Dunia Syiah 
Segeralah bertobat selagi nafas ini masih di berikan dan kembalilah keajaran Islam yang benar 
mengikuti Alquran dan Assunah dengan mengikuti jejak para salafusholeh

Insya Alloh....Isi blog ini akan mewakili Emilia Renita , jika nanti ibu sudah bertobat dan blog ini akan saya serahkan untuk menjadi administratornya

Alhamdulillah blog ini sudah di halaman pertama dengan keyword “ Emilia Renita ”. Apalah jadinya jika nanti 
anak cucu ibu mencari referensi tentang sepak terjang Ibu, tapi Ibu masih di Dunia Syiah

Saya manusia yang dho’if ingin sekali ibu segera bertobat tinggalkan dunia syiah jadilah Ahlul Sunnah

by.... Denyut Nadi/aka Cyber Tauhid


Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu ‘anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu ‘anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani).

Husain Radhiyallahu ‘anhu dan Kronologis Syahidnya

Setelah kekhilafahan dilimpahkan kaum Muslimin kepada Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu, kemudian ia turun (lengser) darinya untuk diberikan kepada Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu untuk memelihara darah kaum Muslimin, dengan syarat selanjutnya Mu’awiyah sendiri yang akan menyerahkan kembali kekhilafahan kepada Hasan Radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi Hasan meninggal dunia sebelum Mu’awiyah meninggal. Maka ketika itu Mu’awiyah memberikan kekhilafahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu’awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba’iatnya, lalu ia keluar dari Madinah menuju ke Mekkah dan menetap di sana.

Kemudian golongan pendukung ayahnya dari Syi’ah Kufah mengirim surat kepada Husain agar ia keluar bergabung menemui mereka. Mereka menjanjikan akan menolongnya jika ia telah bergabung. Maka Husain tertipu dengan janji mereka, dan mengira bahwa mereka akan merealisasikannya untuk memperbaiki kebijakan yang buruk dan untuk meluruskan penyelisihan yang diawali pada kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah.

Perbuatan Husain Radhiyallahu ‘anhu untuk bergabung dengan penduduk Kufah sendiri dinilai salah oleh para penasehatnya. Di antara mereka adalah Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Abdulloh bin Ja’far Radhiyallahu ‘anhum dan lainnya. Bahkan ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu terus mendesak kepada Husain agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!”.

Begitu Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, “Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi’ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu. Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!”

Akhirnya, sangat jelas sekali tampaklah pengkhianatan Syi’ah ahli Kufah, walau mereka sendiri yang mengharapkan kedatangan Husain Radhiyallahu ‘anhu. Maka wakil penguasa Bani Umayyah, ‘Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui sepak terjang Muslim bin ‘Aqil yang telah membai’at Husain, segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya sekaligus tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi’ah Kufah hanya diam seribu bahasa melihat pembantaian dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhu. Hal itu mereka lakukan karena ‘Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan segepok uang kepada mereka.
Maka ketika Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar bersama keluarga dan pengikutnya, berangkat pula Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Husain Radhiyallahu ‘anhu dan terbunuh pula semua sahabat yang mendampinginya secara terzhalimi dan dapat dianggap sebagai pembantaian sadis. Kepala mulianya terpotong, lalu diambil oleh para wanita dan anak-anak yang berada di antara pasukan dan diberikan paksa kepada Yazid di Damaskus. Ketika melihat kepala Husain dibawa ke hadapannya saat itu, Yazid pun sedih dan menangis. Kemudian para wanita dan anak-anak dikembalikan ke kota, sedangkan anak laki-laki ikut terbunuh, sehingga tidak tersisa dari anak-anak (Husain) kecuali ‘Ali Zainul Abidin yang ketika itu masih kecil.

Kemanakah Syi’ah Kufah Pendusta dan Pengkhianat?

Sejak pertama, Syi’ah Kufah sudah takut berperang dan telah “siap” menjual kehormatan mereka dengan harta. Mereka merencanakan pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walaupun hal itu harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlul Bait, Husain Radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin ‘Aqil, dan ternyata tidak pula ikut berperang membantu Husain Radhiyallahu ‘anhu.

Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait lainnya yang gugur bersama Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah putera ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu lainnya, yaitu Abu Bakar bin ‘Ali, ‘Umar bin ‘Ali, dan ‘Utsman bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Juga putera Hasan sendiri, Abu Bakar bin Hasan Radhiyallahu ‘anhu. Namun anehnya, ketika kita mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi’ah yang menceritakan kisah pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhu, keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Lantas, apa tujuannya?

Tentu saja, agar para pengikut Syi’ah tidak memberi nama anak-anak mereka dengan tiga nama sahabat Rosululloh Shallalahualaihi wa sallam yang paling dibenci orang-orang Syi’ah, bahkan yang dilaknat oleh mereka setiap harinya.

Melihat kebusukan perangai dan pengkhinatan Syi’ah, Husain Radhiyallahu ‘anhu dalam doanya yang sangat terkenal sebelum wafat atas mereka adalah “Ya Alloh, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!”.

Konspirasi dibalik Terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu

Di balik tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu dan banyak Ahlul Bait lainnya serta rombongan yang menyertainya, ada rahasia besar yang harus diketahui, yaitu:

1. Ternyata yang membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah ‘Ubaidillah bin Ziyad yang berkolaborasi dengan Syi’ah Husain.

Fakta ini bahkan diakui oleh sejarawan Syi’ah sendiri, Mulla Baqir al-Majlisi, Qadhi Nurullah Syustri dan lainnya, tentunya selain fakta sejarah yang jelas dan mengedepankan nilai ilmiah yang selama ini telah banyak beredar.

Mereka adalah para pengkhianat, musuh-musuh semua kaum Muslimin, bukan hanya bagi Ahlus Sunnah saja.

2. Kecintaan Syi’ah terhadap Ahlul Bait hanyalah isapan jempol dan kebohongan yang dipropagandakan.

Bahkan yang Syi’ah da’wahkan tiada lain merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Majusi Saba’iyah (pengikut Abdulloh bin Saba’).

3. Keadaan Syi’ah yang selalu diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang masa dalam sejarah membuktikan dikabulkannya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu di medan Karbala akan adzab Syi’ah.

4. Upacara dan ritual Asyura’-an, seperti menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuh dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh Syi’ah sehingga mengalirkan darah, juga merupakan bukti diterimanya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu, bahkan mereka terhina dengan tangan mereka sendiri.

Dari upaya menelusuri tragedi terbunuhnya Husain Rahimahullah dapat ditarik kesimpulan bahwa:

1. Syi’ah bukanlah Ahlul Bait, dan Ahlul Bait berlepas diri dari Syi’ah, diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, bahkan lebih jauh lagi.

2. Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait tersebut, maka yang ada hanyalah klaim kedustaan dan propaganda kesesatan.

[hsm/syiahindonesia.com]

Tathbir Ritual Sesat Syiah


 tathbir
tathbir
Tathbir adalah perbuatan dengan memukul atau melukai kepala sendiri dengan menggunakan pedang atau senjata tajam lainnya. Hal ini biasa dilakukan Syiah setiap tanggal 10 muharram untuk memperingati wafatnya Husen radhiyallahu ‘anhu atau yang biasa dikenal dengan perayaan Asyura. Menurut Syiah, perbuatan melukai diri sendiri tersebut merupakan sebuah amalan utama yang diyakini mendapat pahala besar. Kian parah lukanya maka makin besar pula pahala.
Tathbir ini pun sudah pernah dilakukan oleh Ketua Ormas Syiah Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education (OASE) Emilia Renita. Ia mengaku sudah pernah melakukan tathbir sebanyak tiga kali.
“Sudah ya, saya sudah pernah melakukannya sebanyak tiga kali. Pertama di Irak dan dua kali di Indonesia,” ujar Emilia di kantor LBH Jakarta, pada Rabu (28/10/2015) lansir fokusislam.
Menurut mantan istri Jalaludin Rakhmat itu, saat melakukan tathbir dirinya tak takut sedikitpun.
“Kepala saya dibacok menggunakan tangan saya sendiri sampai berdarah-darah. Saya tidak takut, kami Syiah tidak ada rasa takut,” katanya.
Walau darah bercucuran dan luka, menurutnya tidak terasa sakit bahkan justru senang.
“Tidak sakit, biasa aja bahkan saya senang,” tambahnya.
Saat ditanya apakah ia memerlukan perawatan untuk menyembuhkan lukanya, Emilia tertawa dan menjawab bahwa lukanya bakal sembuh dengan sendirinya berkat keberkahan imam Husen.
“Luka cepet sembuh, padahal saya bacok keras pakai pedang. Atas keberkahan imam Husen, luka cepat kering tidak sampai tiga hari,” katanya.
Karena itulah kemudian Emilia mengatakan agar siapapun tidak coba-coba untuk mengganggu Syiah.
“Kami Syiah sudah biasa melukai diri sendiri, apalagi melukai orang lain, maka kami lebih bisa lagi,” terangnya.

Maka muncul pertanyaan besar, siapakah mereka ?? Maka jawabannya adalah para penganut “Agama Syiah”. Mengapa mereka disamakan dengan para binatang ?? Jawabannya karena mereka sendiri yang mengikuti tindak-tanduk para binatang. Apa kesamaan mereka dengan para binatang ?? Kesamaannya adalah:


1- Syiah menjadikan ibu sendiri sebuah objek pelampiasan syahwat. Lihatlah perkataan ulama besar mereka “Al Hadi Al Madrasi”:

يجوز للإبن أن يعاشر والدته إن كانت ارملة كي لاتهجر هم و تتركهم للبحث عن من يسد شهوتها

“Diperbolehkan bagi anak untuk menggauli ibunya jika dia seorang janda. Agar ibunya tidak meninggalkan anak-anaknya untuk mencari orang lain yang memenuhi syahwatnya” Manar Al Ilm 4/386

Lihat kebinatangan syiah yang menjadikan ibunya sebuah objek seks anaknya.

2- Syiah menjadikan anak sendiri sebuah objek pelampiasan syahwat. Disebutkan dalam kitab “Wasail Asy Syiah” bolehnya seorang bapak menghisap-hisap (mengecup) lidah istrinya dan anak perempuannya tatkala puasa:

عن أبي ولاد الحناط قال : قلت لابي عبدالله ( عليه السلام ) : إني اقبل بنتا لي صغيرة وأنا صائم فيدخل في جوفي من ريقها شيء ؟ قال : فقال لي : لا بأس ليس عليك شيء

Dari Abi Walad Al Hanath dia berkata:  Aku berkata kepada Abi Abdillah alaihissalam: “Sesungguhnya aku mencium anak kecilku dan aku sedang puasa, maka masuklah sesuatu dari ludahnya kedalam kerongkongnku? Maka Abu Abdillah berkata: Tidak mengapa, engkau tidak diwajibkan sesuatupun” Wasa’il Asy Syiah 249/5

Lihat bagaimana kebinatangan syiah yang melakukan seks terhadap anaknya dan hal teersebut dilakukan tatkala puasa. Benar-benar syiah adalah agama binatang.

3- Bukan hanya mencium-ciumnya bahkan para syiah memperbolehkan untuk menggesek-gesekkan dzakar diantara kedua anak perempuan yang masih kecil. Khumaini berkata:

وأما سائر الاستمتاعات كاللمس بشهوة والضم والتفخيذ فلا بأس بها حتى في الرضيعة

“Adapun segala cara untuk mencari kenikmatan seperti menyentuh-nyentuh dengan syahwat, dan memeluk, serta menggesek-gesek kemaluan ke paha maka tidak mengapa walaupun yang menjadi objek adalah seorang bayi berkelamin wanita yang masih menyusui”

Lengkaplah sudah kebinatangan syiah dalam mengikuti seks para binatang.

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.



Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry 



Sebagaimana yang kita ketahui pada 10 Muharram tiap tahunnya syiah mengadakan acara niyahah (ratapan) atas kematian Husain bin Ali bin Abi thalib yang wafat di karbala. Jika dinegara Iran, mereka berani menyiksa diri-diri mereka sendiri dengan menyayat punggung dan kepala mereka dengan pisau. Bahkan orangtua dari kalangan syiah tega menyayat anak-anak mereka sendiri dengan pisau. Adapun di indonesia, mereka hanya berani menampar-nampar wajah dan bahu mereka. Ini adalah acara bodoh yang mereka adakan.

Sesungguhnya dalam kitab syiah sendiri dilarang untuk meratapi musibah yang ada, dengan cara diatas. Apakah mereka menjalankan ajaran agama mereka sendiri ??


Disebutkan dalam salah satu kitab syiah, Bahwasanya Ali bin Abi Tholib radhiyallahu anhu berkata:

من ضرب يده عند مصيبة علَى فخذه فقد حبط عمله

"Barangsiapa memukul-mukul pahanya dengan tangannya tatkala datangnya musibah, maka telah batal amalannya"[1]

Inilah wasiat Ali bin tholib yang tertulis dalam kitab mereka, Imam pertama syiah yang mereka agung-agungkan (menurut anggapan mereka) yang lebih utama dari Husain. Akankah mereka melaksanakan petuah Imam Syiah untuk tidak meratapi musibah akan kematian Imam Husain ??

Dan perlu diketahui, Imam Husain sendiri yang wafat terbunuh dikarbala mengatakan kepada saudarinya Zainab di karbala:

يا أختي أحلفك بالله وعليك أن تحافظي علَى هذا الحلف، إذا قتلت فلا تشقي علَى الجيب ولا تخمشي وجهك بأظفارك ولا تنادي بالويل

"Wahai saudariku, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan wajib atasmu untuk menjaga sumpah ini. Jika aku terbunuh maka janganlah kamu merobek robek pakaianmu, dan janganlah kamu menampar-nampar wajahmu, dan jangan juga menyeru dengan perkataan kebianasaan"[2]

Ini yang terbunuh adalah Imam Husain sendiri di karbala. Akankah mereka melaksanakan petuah Imam Husain ??

Kemudian, disebutkan dalam kitab syiah sendiri, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang amalan seperti ini. Rasulullah bersabda kepada Fathimah:

إِذَا أَنَا مِتُّ فَلَا تَخْمِشِي عَلَيَّ وَجْهًا، وَلَا تَنْشُرِي عَلَيَّ شَعْرًا، وَلَا تُنَادِي بِالْوَيْلِ، وَلَا تُقِيمِي عَلَيَّ نَائِحَةً

"Jika aku wafat, maka janganlah kamu menampar-nampari wajahmu atas kematianku, dan janganlah kamu menarik-narik rambutmu, dan jangan pula menyeru dengan perkataan kebinasaan, dan janganlah kamu meratapiku"[3]

Jika, para syi'ah adalah kaum muslimin sejati, seharusnya mereka melaksanakan Petuah Rasulullah yang ada dalam kitab mereka sendiri. Ternyata Para dedengkot syiah dan pengekornya berkhianat kepada kitab-kitab mereka sendiri.

Dan ingatlah, terlepas dari ajaran syiah, amalan ini sudah ada ancaman keras dari dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:

النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

"Wanita yang meratapi mayat bila tidak bertobat sebelum meninggal, ia dibanglitkan pada hari kiamat memakai baju dari timah panas dan mantel dari aspal panas"[4]

Dan Rasulullah bersabda:

 لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

"Bukan termasuk golongan kami siapa yang memukul-mukul muka dan merobek-robek baju serta menyeru dengan seruan jahiliyah"[5]

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry

[1] Nahjul Balaaghoh hal. 576
[2] Muntahaa al aamaal 1/248
[3] Al Kaafi 5/527
[4] HR Muslim
[5] HR Bukhari Muslim